Pelengkap Materi Ajar 15 Buku Katekisasi-Sidi GPIB tentang Keesaan Gereja.

Pendahuluan
Keesaan gereja adalah cerminan dari keesaan Tuhan, sebuah konsep yang dalam dan sering kali sulit dipahami, bahkan oleh umat percaya. Yohanes 17:21 menyampaikan doa Yesus agar umat-Nya menjadi satu, seperti Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang adalah satu. Keesaan ini bukan sekadar persatuan manusia, tetapi cerminan dari Trinitas, misteri ilahi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi bisa diperagakan melalui kesatuan suami istri (Efesus 5:31-32) dan keesaan gereja.
Kita akan membahas bagaimana gereja seharusnya mencerminkan keesaan ilahi tersebut, meskipun ada perpecahan denominasi, serta bagaimana kita dapat memahami rahasia ini melalui keesaan yang nyata dalam relasi suami istri dan gereja.
1. Dasar Keesaan Gereja (Yohanes 17:21)
Yesus berdoa agar umat-Nya bersatu seperti kesatuan yang ada di dalam Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Trinitas adalah rahasia ilahi yang sulit dimengerti manusia, tetapi Yesus menyatakan bahwa keesaan ini adalah saksi bagi dunia. Melalui keesaan gereja, kita memperagakan sesuatu yang lebih dalam: kesatuan Tuhan sendiri.
Bagaimana menerapkannya:
- Mencerminkan Trinitas dalam kehidupan gereja: Gereja harus hidup dalam harmoni dan saling melengkapi, sebagaimana Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja bersama dalam kesempurnaan yang penuh kasih.
- Kesatuan dalam kasih dan iman: Kasih dan iman yang dipraktikkan di dalam gereja merupakan cerminan dari kasih Allah Tritunggal, yang tidak bisa dipahami secara penuh, tetapi dapat dirasakan dan dilihat dalam relasi antar jemaat.
2. Sejarah Perpecahan dan Usaha Keesaan
Sejarah gereja dipenuhi dengan perpecahan, tetapi kita harus ingat bahwa perpecahan ini sering kali disebabkan oleh perbedaan pandangan manusiawi, bukan dari ajaran Allah yang satu. Keesaan gereja seharusnya mencerminkan keesaan Allah Tritunggal, bukan sekadar dalam bentuk institusi, tetapi lebih dalam lagi, yaitu dalam kesatuan iman dan kasih.
Kondisi Saat Ini:
- Eksklusivitas Gereja: Beberapa gereja menjadi eksklusif dan menganggap hanya mereka yang benar. Sikap ini melawan prinsip keesaan yang mencerminkan Trinitas, di mana semua pribadi Allah bekerja dalam kerendahan hati dan saling melayani.
- Inklusivitas Gereja: Gereja harus terbuka dan menyambut semua orang, sebagaimana Bapa, Anak, dan Roh Kudus bersatu dalam kasih yang inklusif dan universal.
Bagaimana mengatasinya:
- Melibatkan dialog antar-denominasi: Dengan memahami bahwa semua gereja yang percaya kepada Trinitas seharusnya bersatu, kita bisa bekerja sama tanpa memisahkan diri berdasarkan perbedaan yang tidak esensial.
- Mengutamakan kasih Allah Tritunggal: Dalam segala tindakan dan pelayanan, gereja harus memperlihatkan kasih Allah yang mencerminkan kesatuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
3. Rahasia Keesaan Suami-Istri dan Gereja (Efesus 5:31-32)
Paulus dalam Efesus 5:31-32 berbicara tentang kesatuan suami istri sebagai gambaran dari rahasia besar: hubungan antara Kristus dan gereja. Rahasia ini mencerminkan keesaan Tuhan yang tak terpisahkan. Seperti suami dan istri yang menjadi “satu daging,” demikian pula Kristus dan gereja dipanggil untuk menjadi satu. Ini juga mencerminkan Trinitas, di mana tiga pribadi Allah adalah satu.
Bagaimana menerapkannya:
- Mengakui Kristus sebagai Kepala: Gereja harus tunduk kepada Kristus, sebagaimana suami dan istri tunduk satu sama lain, dalam cinta dan kesatuan. Kristus adalah kepala gereja, sebagaimana Bapa adalah sumber dari segala keesaan dalam Trinitas.
- Mempraktikkan kesatuan melalui kasih: Hubungan suami-istri dan hubungan antar jemaat harus mencerminkan kasih yang ada dalam Trinitas, yang menyatukan meskipun berbeda dalam fungsi dan peran.
4. Tantangan dan Harapan dalam Keesaan Gereja
Meskipun ada begitu banyak denominasi dan perbedaan, harapan kita adalah keesaan gereja dapat memperagakan keesaan Tuhan yang sejati. Kita dipanggil untuk memahami bahwa Trinitas—yang adalah tiga pribadi tetapi satu Allah—tidak bisa dipahami sepenuhnya dengan akal, tetapi bisa dilihat melalui kesatuan yang nyata di dalam gereja.
Bagaimana menerapkannya:
- Menjaga fokus pada Tuhan yang Esa: Gereja harus selalu ingat bahwa tujuan utama adalah memuliakan Tuhan yang esa dalam Trinitas, bukan berdebat soal perbedaan doktrin yang tidak mendasar.
- Membangun hubungan berdasarkan kasih: Sama seperti Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki hubungan yang saling mengasihi, gereja harus memperlihatkan kasih yang mencerminkan keesaan Allah.
Kesimpulan
Keesaan gereja adalah refleksi dari keesaan Tuhan dalam Trinitas, yang adalah rahasia besar dan sulit dipahami. Melalui peragaan kesatuan suami-istri dan kesatuan gereja, rahasia ini dapat diperagakan kepada dunia. Dengan bersatu dalam kasih dan misi, kita dapat mencerminkan Trinitas yang Esa, meskipun berbeda-beda dalam cara melayani.
